Skip to main content

Kisah Tukang Rujak tentang Bersyukur, Bersabar dan Berdoa


KISAH INSPIRATIF-

Kisah Tukang Rujak tentang Bersyukur, Bersabar dan Berdoa
"Nikmat dan Rezeki"

Tahun 2013 Kemarin hujan mulai jam 9 pagi, seorang tukang rujak numpang berteduh di teras ruko tempat saya bekerja.

Masih penuh gerobaknya, buah-buah tertata rapi. Kulihat beliau membuka buku kecil, rupanya Al Quran. Beliau tekun dengan Al-Qurannya. Sampai jam 10 hujan blm berhenti.

Saya mulai risau karena sepi tak ada pembeli datang.

Saya keluar memberikan air minum.

“Kalau musim hujan jualannya repot juga ya, Pak… ” .. “Mana masih banyak banget.”

Beliau tersenyum, “Iya nak.. Mudah-mudahan ada rejekinya.. .” jawabnya.

“Aamiin,” kataku.

“Kalau gak abis gimana, Pak?”. tanyaku.

“Kalau gak abis ya risiko, Nak.., kayak semangka, melon yang udah kebuka ya kasih ke tetangga, mereka juga seneng daripada kebuang. kayak bengkoang, jambu, mangga yang masih bagus bisa disimpan. Mudah-mudahan aja dapet nilai sedekah,” katanya tersenyum.

“Kalau hujan terus sampai sore gimana, Pak?” tanyaku lagi.

“Alhamdulillah nak… Berarti rejeki saya hari ini diizinkan banyak berdoa. Kan kalau hujan waktu mustajab buat berdoa nak…” Katanya sambil tersenyum.

“Dikasih kesempatan berdoa juga rejeki, Nak…”

“kalau gak dapet uang gimana, Pak?” tanyaku lagi.

“Berarti rejeki saya bersabar, Nak… Allah yang ngatur rejeki, Nak… Saya bergantung sama Allah.. Apa aja bentuk rejeki yang Allah kasih ya saya syukuri aja. Tapi Alhamdulillah, saya jualan rujak belum pernah kelaparan.

“Pernah gak dapat uang sama sekali, tau tau tetangga ngirimin makanan. Kita hidup cari apa Nak, yang penting bisa makan biar ada tenaga buat ibadah dan usaha,” katanya lagi sambil memasukan Alqurannya ke kotak di gerobak.

“Mumpung hujannya rintik, Nak… Saya bisa jalan ..Makasih yaa ,Nak…”

Saya terpana… Betapa malunya saya, dipenuhi rasa gelisah ketika hujan datang, begitu khawatirnya rejeki materi tak didapat sampai mengabaikan nikmat yang ada di depan mata.
Saya jadi sadar bahwa rizki hidayah, dapat beribadah, dapat bersyukur dan bersabar adalah jauh…jauh lebih berharga daripada uang, harta dan jabatan…

PELAJARAN HARI INI:

Cobalah ketikan pelajaran dari cerita di atas di komentar!

Dan jangan lupa share ke media sosial!

Sumber: facebook.com
Related Post

Comments

Popular

Kisah Wanita Yang Taubat Karena Bermimpi Dahsyatnya Siksaan Neraka

Bismillah.. Kali ini admin akan membagikan cerita yang didapat dari teman-teman WA. Kisah nyata ini akan membawa kita sadar bahwa apa yang kita lakukan akan ditanggung jawabkan dan kita harus bersiap-siap dengan apa yang kita lakukan di dunia ini. Bagaimana kisah seorang wanita yang ketika menginjakan kaki di haramain langsung diazab. Hingga ia sadar dan akhirnya hidupnya langsung berbah seratus delapan puluh persen. Mungkin kalin bisa mengambil pelajaran dari kisah ini. Semoga kisah repost dari WA ini dapat memberi kita hidayah. Selamat Membaca. Kisah Nyata: Seorang Wanita Cantik Kena Azab di Tanah Suci Selama hampir sembilan tahun menetap di Mekah sambil menguruskan jemaah haji dan umrah, saya telah melalui berbagai pengalaman menarik dan yang pahit. Bagaimana pun, dalam banyaknya peristiwa yang saya alami, ada satu kejadian yang tidak akan pernah saya bisa lupakan. Kisah ini terjadi kepada seorang wanita yang berusia di pertengahan 30-an pada saat saya mengurus satu rombongan haji...

Kisah Luar Biasa Seorang Ibu dengan 7 anaknya

Alkisah, beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Di sampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan. ”Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta?”, tanya si pemuda. “Oh… saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang ke-2”, jawab ibu itu. ”Wow, hebat sekali putra ibu”, pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak. Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahunya, pemuda itu melanjutkan pertanyaannya. ”Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang ke-2 ya bu? Bagaimana dengan kakak adik-adiknya?” ”Oh ya tentu”, si Ibu bercerita: ”Anak saya yang ke-3 seorang dokter di Malang, yang ke-4 kerja di perkebunan di Lampung, yang ke-5 menjadi arsitek di Jakarta, yang ke-6 menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke-7 menjadi Dosen di Semarang.” Pemuda tadi diam, hebat ib...